Misteri Diary Flora
Cerpen Karangan: Raihani Putri
Lolos moderasi pada: 7 October 2015
Namaku Anisa Intan Lestari. Biasa dipanggil Anisa atau Intan. Aku dulu mempunyai teman yang bernama Flora. Tetapi, sekarang dia sudah pindah ke luar negeri. Tetapi, dia memberiku 1 buku diary-nya yang selalu dia tulis setiap hari setiap dia mengalami suatu hal yang menyenangkan, menyedihkan, atau pun yang dibencinya. Saat ini, aku masih penasaran dengan perjalanan bukunya. Buku ini berisi suatu rahasia yang paling dia pendam. Kata-kata terakhir yang ku dengar saat dia mau pindah adalah,
“An, ku berikan seluruh rahasiaku. Dulu, saat aku membicarakan benda yang selalu kubicarakan padamu, kau selalu ingin tahu. Sekarang, jika kau ingin tahu, semua petunjuknya ada di sini. Pecahkan semua kata-kata rahasianya. Dan, kau akan menemukan jawabannya. Aku yakin kau bisa. Selamat tinggal Anisa, ku harap kita bisa bertemu lagi.” Itulah kata-kata terakhir yang saat ini masih ku ingat.
—
“Oh. Bagaimana caranya aku memecahkan rahasia ini?” kataku saat mengingat isi buku diary Flora.
“Kau kenapa An? Kenapa kau bicara sendiri?” Tanya Riri yang heran melihatku.
“Ah. Riri. Begini, kau masih kenal Flora bukan?” tanyaku.
“Flora? Ya! Aku masih ingat. Dia yang pindah itu kan?” Tanya Riri yang masih mengingat Flora.
“Begini, saat dia hendak pergi, dia memberikan aku buku diary-nya, dan, saat itu, kau masih ingat kan? Flora selalu membicarakan benda yang selalu ingin kita tahu?” Tanyaku lagi.
“Hm? Hem. Oh. Itu, ya, aku masih ingat, memang kenapa?” Tanya Riri lagi.
“Jawabannya ada di dalam buku ini. Jika kau ingin tahu, ayo kita pecahkan bersama.” ajakku pada Riri.
“Hm. Bagaimana ya? Aku tidak tahu nanti boleh main atau tidak.” jawab Riri agak gugup takut jika aku marah.
“Ayolah. Ini demi tahu jawabannya. Bukannya kau selalu ingin tahu?” bujukku dengan penuh harap. “Hm. Bagaimana ya? Hem. Coba nanti aku Tanya dengan orangtuaku. Boleh atau tidak.” kata Riri.
“Oke.”
Kemudian, saat istirahat kedua, Aku pergi ke kantin sendirian. Aku membeli semangkuk mie ayam dan segelas es the manis. Aku hanya termenung memakan makanannya itu.
Tiba-tiba, Riri dan Dina datang.
“Hei Anisa.” Sapa Dina.
“Eh. Oh. Dina, hei juga.” Kataku lemas.
“Kau kenapa? Are you sick?” Tanya Dina.
“Enggak kok. Aku tidak sakit. Hanya, aku lemas saja.” jawabku.
“Why?” Tanya Dina lagi.
“Oh. Dina. Kau selalu. Saja ingin tahu masalah orang lain.” kata Riri.
“Hei! Aku tidak seperti itu Ri. Setidaknya aku lebih beruntung daripada Hida.” kata Dina.
“Emang, Hida itu siapa?” Tanyaku penasaran.
“You don’t know Hida?” Tanya Dina kaget.
“Aku memang tidak tahu. Lagian, dia kelas berapa?” Tanyaku lagi.
“Kuberitahu. Hida adalah anak kelas 4 B. Dia pindahan. Tetapi, banyak yang tak suka dia karena dia selalu saja ingin tahu. Setidaknya lebih bagus aku.” kata Dina mengunggulkan dirinya sendiri.
“Kau ini!” kata Riri tertawa kecil mendengar perkataan Dina.
“Oh. Sudahlah.” Kataku.
Saat sudah pulang sekolah, Aku segera pulang dan membaca kembali diary milik Flora lagi. Aku membacanya dengan penuh harap dapat memecahkannya. Aku tak menyangka jika Riri dan Dina akan datang ke rumahku. Beginilah ceritanya.
“Ri, kita akan ke rumah Anisa nih?” Tanya Dina.
“Yap! Betul sekali! Ayo cepat.” ajak Riri cepat. Mereka sudah sampai di depan rumahku.
Tok tok tok.
“Ya? Eh. Riri, Dina. Mau cari Anisa? Anisa ada di dalam. Ayo masuk.” kata Ibuku mempersilakan Riri dan Dina masuk.
“Anisa. Ini ada Riri dan Dina!” panggil Ibu kepadaku.
“Ya!!” kataku menjawab Ibu.
“Riri! Dina! Ke atas saja.” panggilku pada Riri dan Dina.
Riri dan Dina segera ke atas dan masuk ke kamarku.
“Wow. An, kamarmu bagus. Luas, cantik, indah, lucu, dan bikin mau di sini terus. Ada TV-nya lagi. Wah, pasti kamu seneng banget ya? Wow. Eh! Ada kamar mandi dalam. Wow.” kata
Dina terkagum-kagum akan keindahan kamar Anisa yang sangat indah.
“Hehe, terima kasih, lagian, ada apa kalian ke sini?” Tanyaku.
“Oh. Kita mau membahas tentang diary Flora.” kata Riri.
“Oh. Iya! Hehe. Nih, Ini buku diary-nya.” kataku sambil memberikan bukunya.
Riri dan Dina membacanya dengan penuh konsentrasi. Apakah kata-kata itu rahasia atau bukan.
“Hm. Eh! Ini bagian terpentingnya! Ini petunjuk letak benda itu!” kata Riri.
—
Dear diary.
15 September 2012
“Sebenarnya, aku ingin memberitahu Anisa dan yang lain tentang benda itu. Untungnya, aku sudah mempunyai rencana untuk memberikan buku ini pada Anisa agar dia tahu benda apa yang ku maksud. Ku harap, dia mengerti.”
Dear diary.
16 September 2012
“Bagaimana ini? Sebentar lagi, aku harus pergi dari sini. Aku masih betah di sini. Masa, harus pindah secepat ini? Aku masih ingin bersama Anisa dan yang lain. Oh. Bagaimana ini?”
Dear diary.
17 September 2012
“Untuk Anisa teman baikku bahkan sahabatku. Aku sengaja memberikan diaryku agar engkau tak penasaran apa yang selalu ingin kau tahu. Sekarang, kau boleh tahu. Tetapi, kau harus memecahkan petunjuk ini. Di sebelah tempat berlindung orang tua yang ku kenal, di bawah sebelah taman wangi yang sangat ku sukai, di bawah pijakan kaki manusia untuk beristirahat. Bagaimana Anisa? Apa kurang jelas? Aku yakin sudah sangat jelas. Jadi, berjuanglah!!!
Salam,
Flora Artunasia”
“Hm? Apa ini?! Ini sungguh sulit!” kata Riri tak percaya.
“Kan, sudah pernah ku bilang.” kataku.
“Tapi, kau tak bilang kalau sesulit ini!” kata Riri.
“Hmm. Ya sudahlah.” kataku mengalah.
“Tapi, tulisan Flora bagus banget..” potong Dina.
“Ya! Dia memang bagus kalau menulis.” kataku.
“Aku suka banget tulisannya. Sayang, dia sudah pindah. Tapi, dia pindah ke mana?” tanya Dina.
“Dia pindah ke Eropa. Kalau negaranya, kurang tahu..” jawabku.
“Sudah! Ayo kita berpikir untuk ini!” potong Riri.
“Oke..” jawab Dina dan aku.
“Hm. Masalahnya, ini bagaimana? Orang tua yang Flora kenal? Tempat berlindung? Apa maksudnya?” kata Riri yang berpikir keras.
“Hm. Orangtuanya? Tidak mungkin. Flora saja pindah, apalagi orangtuanya. Hm. Bibinya? Pamannya? Kakek? Nenek?” pikir Riri.
“Hm. Bibi dan Pamannya tidak ada yang di sini. Kakeknya, sudah meninggal. Jadi, yang masih itu.” aku, Riri dan Dina saling menatap mata dan seperti mengerti. “NENEKNYA!!” seru kami.
“Tapi, aku tidak tahu di mana Neneknya, apa maksud tempat berlindung ini rumah? Penginapan? Villa? Atau apa?” tanya Dina.
“Hm. Sepertinya rumah. Kau tidak tahu? Di sini tidak ada Villa, penginapan, atau hotel, atau apalah itu! Di sini itu perkampungan yang seperti perumahan.” jawabku dengan nada tinggi.
“Hm. Iya juga ya? Ada yang tahu rumah Nenek Flora?” tanya Dina.
“Oh!! Aku tahu! Nenek Flora bernama Frida kan? Nenek Frida?” tanya Riri.
“Hm. Tunggu dulu. Ya! Itu namanya!” jawabku.
“Aku tahu! Tak jauh dari rumahku. Ayo ke sana!” ajak Riri.
Setelah kami sampai di rumah Nenek Frida, beliau sedang membaca koran. Nenek Frida belum terlalu tua. Umur beliau baru 61 tahun. Jadi, masih agak muda. Lalu, Aku, Riri dan Dina memberi salam pada Nenek Frida.
“Assalamualaikum Nek..” salam Riri.
“Waalaikumsalam. Eh. Riri. Ada apa nak? Apa ada perlu dengan Nenek?” tanya Nenek Frida hangat menyambut Riri, Aku, dan Dina.
“Begini nek, Ini Anisa dan Dina. Hm. Kami hanya mau melihat. Melihat…” suara gugup mulai ke luar dari mulut Riri.
“Melihat? Melihat apa? Melihat taman bunga Nenek?” tanya Nenek Frida bingung.
“Oh. Ya! Kami mau melihat taman bunga Nenek. Nenek bersantai saja. Kami hanya ingin melihat-lihat saja kok..” kata Riri.
“Oh. Baiklah. Silahkan, Nenek akan di sini.” kata Nenek ramah.
“Terima kasih Nek!” ucap Riri, Aku dan Dina sambil tersenyum.
“Now? Apa itu ‘di bawah pijakan kaki manusia untuk beristirahat?’ Sulit sekali..” tanya Dina.
“Hm.. Pijakan kaki? Tanah? Atau lantai atau apa?” pikir Riri.
“Tempat untuk bersitirahat. Hm. Kursi? Tempat tidur? Atau apa?” pikirku keras.
“Hello.. Di sini adalah halaman belakang rumah Nenek Frida.. Mana mungkin untuk tidur? Lagi pula, mengapa Flora menulis di rumah Nenek Frida? Dan, apa kau tidak malu masuk ke rumah Nenek? Bahkan, kamarnya? Atau kamar siapa?” tanya Riri dengan nada tinggi.
“Betul juga. Eh.. Ada bangku, aku mau duduk dulu ah. Cape.” kataku duduk di bangku warna hijau di depan taman bunga mawar.
“Hm. Mawar. Bunga yang paling disukai oleh Flora. Hm.” kataku sambil menghirup bunga mawar. “Tunggu dulu! Mawar? Bangku? Rumah Nenek? Oh. Aku tahu jawabannya!!” seruku keras sekali.
“Hei! Ada apa kau teriak-teriak?” kata Riri kaget.
“Aku tahu maksud dari kata-kata itu!” seruku dengan tak jelas.
“Apa yang kau maksud?! Kata-kata apa?!” tanya Dina dengan nada sangat tinggi.
“Aku tahu maksud dari petunjuk di diary Flora.. Dan aku juga tahu di mana letak benda itu!” kataku bersemangat.
“Apa? Di mana?” tanya Riri penasaran. “Jadi, maksud dari tempat berlindung orang tua yang Flora kenal adalah Neneknya. Neneknya sangat sayang padanya, jadi, dia meletakkan beberapa petunjuk lagi. Dan, taman wangi yang dia favoritkan maksudnya taman bunga, dan, favoritnya adalah mawar. Dan, di bawah pijakan kaki manusia untuk beristirahat maksudnya adalah Bangku. Dia sangat mudah lelah dan jika dia lelah, dia lebih suka duduk daripada langsung tiduran. Jadi, jawabannya ada di bawah bangku ini!” jelasku sangat bersemangat dan segera memindahkan bangku hijau itu.
“Hem? Oh.. Ah.. Aku mengerti! Ayo pindahkan bangku ini!” ajak Riri.
“Aku sedang berusaha.. Ayo bantu aku!” perintahku.
Dan, setelah bangku digeser, Dina segera mengambil skop untuk menggali tanah. Dan, saat digali. Sebuah kotak berhasil ditemukan. Aku, Dina dan Riri terheran-heran bukan main. Kenapa hanya kotak saja? Dan, kenapa sebuah kotak harus menjadi rahasia? Tanpa berpikir panjang, Dina segera mengambil kotak.
“Hei. Kotak ini terkunci. Ada gemboknya juga. Bagaimana ini?” tanya Dina terkejut saat kotak tak bisa dibuka.
“Hm. Tunggu! Aku mau lihat bentuk lubang kuncinya.” kataku menghentikan. Aku pun mengeluarkan kalung yang ada bandul kunci.
Saat diberi oleh Flora, aku tak tahu kalau ternyata, itu adalah kunci untuk kotak itu. Flora juga memakai kalung yang sama. Jadi, kotak itu mempunyai 2 kunci yang dimiliki oleh 2 orang. Yaitu, aku dan Flora. Aku langsung membuka kotak itu. Dan.. berhasil! Kotak berhasil dibuka!
“Hah?! Kotaknya terbuka! Ayo cepat buka! Dan lihat apa isinya!” kata Riri cepat.
“Oke! Sekarang. Ayo kita lihat rahasia yang terpendam oleh Flora!” ajakku. Dan, ternyata isinya. Hanya kertas, kalung yang sangat indah, dan sebuah buku yang sudah rusak.
“Hm? Apa ini?!” kata Riri bingung.
“Tunggu! Sebaiknya, ayo kita baca dulu!” ajakku menenangkan Riri.
18 Desember 2012
“Untuk semua keluargaku, terima kasih karena sudah memberikan segala kasih sayang kalian untukku. Aku sangat bahagia bisa memiliki saudara seperti kalian. Untuk semua temanku, juga Anisa, kau telah berhasil menemukan benda yang selalu aku bicarakan, tapi aku sudah pergi. Tak apa kan? Hanya, suatu kenangan. Aku akan memberikan beberapa kalimat untukmu. Senin ku tunggu kau tak ada, Selasa pun sama, Rabu pun sama. Kamis masih ku tunggu, pagi atau malam, ku setia menunggu. Kapan kita bisa bersama, walau ini sangat sakit. Ku tak tahu apakah ini, akan menjadi yang terakhir. Maaf ya Anisa? Hanya ini yang bisa ku berikan untukmu. Dan. Oh ya! Kalung itu harus kau jaga dengan baik! Jika tidak, kita tidak akan berteman! Hahaha. Bercanda kok. Tapi An, jaga baik-baik kalung itu. Saat kau buka liontinnya, kau akan tahu. Dan, baca saja buku itu. Aku yakin kau pasti tahu apa maksud buku itu.”
Aku, Dina dan Riri ternganga. Tak bisa menahan tangisan itu. Oh.. Flora, kenapa kau pergi?
“Eh! Nis, aku mau lihat kalungnya..” pinta Riri.
“Ini..” kataku memberikan kalungnya. Saat liontin berbentuk hati itu dibuka, ada fotoku dengan Flora saat pergi ke Jogja. Sungguh lucu dan manis.
“Eh, Nis, aku juga mau lihat bukunya.” pinta Dina.
“Hm..” pikirku dulu. Aku berusaha mengingat buku itu. Dan ternyata, album foto! Aku tak mau memberikannya pada Dina dan Riri.
“Ah! Tidak mau! Ini rahasiaku dengan Flora tahu!” kataku melarang. Lalu, aku tersenyum. Di dalam hatiku, aku tertawa karena mengingat foto-foto di dalam album itu.
Cerpen Karangan: Raihani Putri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar