Kamis, 08 Oktober 2015

Kerudung Buat Sahabat

Kerudung Buat Sahabat

 Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 17 September 2015

 

Aku dan Rina sudah bersahabat sejak kami duduk di bangku SMP dan sekarang kami sudah kuliah, kami sering menghabiskan waktu bersama, jalan bersama, ngerjain PR bersama, dihukum bersama, bahkan kami dijuluki si Ratu Kembar di kampus. Karena semua hal kami lakukan bersama, jarak rumah kami juga sangat dekat sehingga memudahkan kami untuk bertemu setiap saat. Namun kami memiliki perbedaan yang sangat mencolok, dari mulai tingkah laku, pakaian dan cara berpikir, tetapi hal itu tidak menjadi suatu penghambat buat persahabatan kami.

Rina adalah anak yang sangat baik, namun ia memiliki tingkah laku yang kurang baik, ya maklum saja Rina anak yang tomboy, dia hobi banget berantem apalagi kalau ada cowok yang coba–coba ngegangguin kami, langsung deh ditonjok tuh cowok sampe babak belur, cara berpakaiannya juga sangat urakan, berbeda banget dengan aku, aku anak yang pendiem dan cara berpakaianku pun rapi, aku selalu menggunakan kerudung di mana pun aku berada. Tapi kami saling menerima kekurangan satu sama lain, hingga suatu saat ketika kami sedang duduk di halaman depan rumah kami sambil melihat indahnya bulan, aku mencoba untuk berbicara serius kepada Rina.
“Rin, aku pengen ngomong sesuatu nih sama kamu,” seketika Rina menatapku dengan wajah bertanya–tanya.
“serius amat Pur, emang mau ngomong apaan sih?”
“hmm.. begini Rin, kita kan sekarang udah dewasa, udah kuliah juga apakah kamu tidak mau merubah sikap dan penampilan kamu? Agak rapian dikit gitu, aku ingin kamu berubah Rin, aku ingin kamu menggunakan kerudung untuk menutup aurat kamu,”
Rina pun tersenyum padaku sambil berkata, “aku belum siap Pury, aku butuh waktu. Aku ngantuk nih, aku masuk duluan yah?”
Rina pun langsung meninggalkanku, astaga!! Sepertinya Rina marah padaku, aku gak ada maksud untuk menyinggung dia, tapi sepertinya dia salah paham. Ya sudahlah basok aku coba buat ngomong lagi sama dia di kampus. Sesampai di kampus aku tak melihat Rina, aku coba tanya ke temen–temen sekelasnya juga pada gak ada yang ngelihat Rina, aku sms pun gak direspon.
“kenapa sih dengan tuh anak, apa karena kejadian tadi malam?” ucapku dalam hati, sepulang dari kampus, aku samperi Rina ke rumahnya.
“assalamualaikummm Rina,”
“waalaikumsalam, sebentar, eh Pury, masuk nak,” ucap Ibu Rina.
“Rina ada bu?”
“oh ada nak, dia di kamarnya tuh,” aku pun menuju kamar Rina.
“hei Rin, kamu kok pucat banget gitu? Kamu sakit?”
“iya nih Pur, lagi gak enak badan,” Rina mencoba untuk membangunkan badannya.
Aku menemani Rina di kamarnya, dan aku mengubur niatku untuk menanyakan hal yang tadi malam, aku tak mau membuat Rina tambah sakit atas ucapanku nantinya jadi lebih baik aku tunda saja. Rina sangat sangat bosan karena berada di kamar terus, aku pun mengajak Rina untuk menonton film favoritenya “Cinta Rock N Roll”, seperti biasa, walaupun Rina tomboy dan terkesan urakan tetapi kalau udah nonton film itu pasti deh mewek.
Akhirnya kami menghabiskan waktu untuk menonton di kamar Rina, tanpa terasa hari mulai malam aku pun segera kembali ke rumah dan membiarkan Rina beristirahat.
Tujuh hari sudah Rina tak masuk kuliah, dan akhirnya kini Rina masuk kuliah dengan wajah yang cerah.
“heii Pury, kangen nih sama kamu,”
“heii Rin, uda baikan kamu? Iya aku juga kangen banget uda lama gak ngumpul bareng kamu,” berpelukan.
“kantin yukk, laper nih,”
“boleh yukkk!!” aku dan Rina pun menuju kantin, namun sesampai di kantin ada pandangan yang tak biasa yang menghampiri pandangan Rina. Rina tampaknya tertarik sama cowok yang berkacamata dan make kemeja biru itu. Sebab baru kali ini dia memandangan cowok seperti itu.
“Pur, tuh cowok cakep banget, kayaknya aku suka deh, ya ampun Pur, pegang nih jantung aku,”
“astaga!! kenceng banget Rin!” Sontak wajah Rina mulai memerah dan seakan tersipu malu. Kami pun duduk tepat di samping itu, karena cuma di situlah bangku yang masih kosong, diam-diam Rina suka curi-curi pandang ke cowok yang ada di sebelah, menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa, lihat aja tuh dia mulai salah tingkah saat cowok berkacamata itu pergi sambil melihat ke arah Rina.
“heh!! Melamun aja, melamuni siapa sih, tuh cowok yah?”
“aku suka dia Pur, dia beda banget sama cowok lain,” ujar Rina sambil tersenyum.
“jarang–jarang nih anak begini biasanya mah anti banget sama cowok, tapi syukur deh dia mau ngebuka hati buat cowok lain,” gumamku.
Selesai kelas kami langsung pulang, ketika sampai di parkiran, aku melihat cowok berkacamata itu ke luar dari masjid kampus.
“Rin.. Rin, bukannya tuh cowok yang di kantin tadi yah?”
“mana sih?”
“itu tuh deket masjid samping pohon,”
“oh iya Rin, ya ampun Rin, udah cakep, pinter, rajin ibadah lagi, aku tambah kagum sama dia Rin,” kekaguman Rina semakin meningkat saat itu.
Sepanjang jalan dia hanya senyum–senyum gak jelas. Ternyata tanpa sepengetahuanku Rina suka cari–cari informasi tentang cowok berkacamata itu, dan ketika aku mengetahuinya Rina tampak sangat malu, aku pun langsung memberi semangat kepada Rina.
“kalau kamu suka sama dia, kamu harus ngerubah penampilan kamu, kamu cantik loh pasti dia suka sama kamu,”
“kamu yakin? Tapi kalau dia gak tertarik gimana?”
“udah coba aja, yakin deh dia pasti jatuh cinta sama kamu, hehehe…”
Kami pun langsung pergi ke suatu mall untuk membeli baju baru, dan Rina lebih memilih pakaian agak sedikit terbuka daripada pilihan bajuku yang panjang dan sopan, tapi ya sudahlah ini pilihan Rina dan mungkin ini yang buat dia senang, sebelum kami berangkat ke kampus aku membantu Rina untuk menghias diri, Rina tampak sangat cantik. Sesampai di kampus semua mata tertuju pada Rina, semua cowok memuji kecantikan Rina termasuk cowok berkacamata itu, sebut saja dia Rio.
“heii, aku Rio, kamu terlihat cantik hari ini,” pujian Rio ke Rina, seketika Rina langsung bengong mendengar pujian itu.
“heiii.”
“eh iya maaf aku gak nyangka aja kamu ucapkan kata itu ke aku,”
“emang kenapa kamu cantik kok,”
Sejak pembicaraan itu hubungan Rio dan Rina kini semakin dekat. Aku pun mendukung kedekatan mereka dan semoga aja Rio adalah pilihan terakhir Rina dan bisa buat Rina bahagia seperti apa yang Rina harapkan selama ini, karena semenjak dekat dengan Rio tingkah laku Rina yang tadinya tomboy dan kasar kini telah berubah menjadi sangat feminim.
Hari demi hari telah berlalu bahkan kini Rio dan Rina telah resmi pacaran selama 1 minggu, aku turut senang dengan kabar itu. Selang beberapa bulan kemudian ketika aku sedang mengantar Ibu ke mall dari kejauhan aku melihat Rio sedang menggadeng seorang cewek, awalnya sih aku gak curiga ya karena aku kira itu Rina, eh ternyata ketika jarak kami agak mulai mendekat aku melihat kalau itu bukan Rina, aku segera menelpon Rina dan menanyakan keberadaan Rio, dan betapa kagetnya aku saat Rina bilang kalau Rio sedang ada acara keluarga di Bali.
Saat itu juga aku langsung menutup telpon Rina. Aku semakin penasaran siapa sebenernya cewek itu, mumpung Ibu sedang asyik belanja aku pun segera megikuti ke mana mereka pergi, mereka berhenti di suatu restaurant yang ada di mall tampaknya mereka ingin makan siang di tempat itu, aku mengintip dari kejauhan dan Rio sedang memegang tangan cewek itu.
“siapa sih tuh cewek?” Bisikku penasaran, ya sudahlah aku segera meninggalkan mereka.
Keesokan hari ketika sampai di kampus aku melihat Rio sedang duduk berdua dengan Rina betapa mesrahnya mereka, perasaanku sangat kacau, di satu sisi aku ingin memberitahukan masalah ini sama Rina, tapi di satu sisi lain aku gak mau menghancurkan perasaan sahabatku, aku gak pernah melihat dia sebehagia ini ketika bersama cowok, aku bingung Tuhan apa yang harus aku lakukan!! Untuk memastikan kecurigaanku benar atau tidak aku dan temanku Ivan sepakat untuk mengikuti ke mana pun Rio pergi.
Sabtu malam aku ke rumah Rina, dan aku lihat ternyata Rina tidak ke luar dengan Rio, nah di situlah aku dan Ivan mencoba mencari info tentang Rio, di mana dia nongkrong dan dengan siapa dia pergi, ketika kami berhenti di warung bakso Ivan melihat motor Rio yang terparkir di salah satu cafe, kami pun segera memastikan itu Rio atau bukan, ternyata benar Rio sedang makan malam bersama cewek yang aku lihat di mall beberapa hari yang lalu.
Astaga berarti selama ini Rio telah menduakan Rina. Aku dan Ivan pergi dari cafe itu dan nyamperi Rina di rumahnya dan menceritakan semua yang kami lihat tentang Rio, namun aku gak nyangka kalau Rina cinta banget sama Rio sampai–sampai ucapan kami pun tak dihiraukannya, dan malah kami dituduh ingin menghancurkan hubungan mereka.
“kalian gila yah? Rio gak mungkin kayak gitu, dia sayang banget sama aku begitu juga dengan aku, jadi dia gak mungkin duain aku, bisa aja kan kalau kalian salah lihat, aku tahu Rio gimana dan kalian gak usah fitnah Rio kayak gitu, atau jangan-jangan kalian ingin menghancurkan hubungan kami iyah?” ujar Rina dengan tatapan sinis.
“ya ampun Rin, kamu kok segitunya banget sih sama kita, kita cuma pengen kamu tahu yang sebenarnya, kalau Rio gak sebaik yang kamu kira!” Tetap saja Rina gak peduli dan langsung masuk ke kamarnya, kami pun bergegas pulang.
Dua hari lagi Rina ulang tahun, mungkin untuk saat ini tidak menjadi momen yang indah buat kami, tidak seperti dulu lagi biasanya tiap ada yang ulang tahun, aku atau dia selalu membuat acara bareng tapi tidak untuk saat ini karena hubungan kami telah menjauh dan hubungan Rio dengan Rina semakin dekat saja. Aku pun telah kehabisan akal untuk membuktikan kepadanya bahwa Rio bukan cowok baik, jadi lebih baik aku mundur.
Tepat tanggal 08 mei 2013 aku merasa sangat gelisah, bagaimana tidak? Ini adalah hari ulang tahun Rina dan aku pun gak berani untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Rina, sedih, kesel, kecewa semua campur aduk, kenapa hal ini bisa terjadi sama kami. Tapi aku yakin cepat atau lambat dia akan sadar, malam ini Rina mengadakan acara party di rumahnya, ingin sekali aku ke sana tapi aku kubur niat itu dalam-dalam. Aku juga telah menyiapkan kado spesial buat Rina yaitu kerudung. Aku berharap suatu saat nanti Rina mau menutup aurat dan menggunakan kerudung ini di saat dia ingin bepergian. Aku pun menitipkan kado ini kepada adiknya Rina.
“dik, kado ini letakkan di meja rias kak Rina yah?”
“iyah kak sip,” aku segera meninggalkan adik Rina.
Selesai acara Rina langsung masuk kamar dan membuka semua kado dari temen-temen termasuk kado Rio dan aku. Saat itu Rina membuka kadoku dan aku hanya menitipkan surat di samping kerudung itu.
“Rin, selamat ulangtahun yah, maaf kalau aku udah buat kamu kesal aku cuma ingin yang terbaik buat kamu, aku ingin kamu berubah, tutuplah auratmu dengan kerudung ini dan kamu akan terlihat lebih cantik, semoga kamu bahagia dengan cowok pilihan kamu, maaf aku gak bisa datang, sekali lagi happy birthday yah,” isi suratku ke Rina.
Aku gak tahu apa respon dia terhadap surat dan kado aku, tapi yang jelas aku hanya ingin yang terbaik buat dia.
Seminggu lebih kami gak pernah ketemu baik di kampus mapun di luar kampus, kami juga gak pernah komunikasi lagi, tapi tiba–tiba saja aku dikagetkan dengan seorang wanita yang sangat cantik dan anggun, dan ternyata itu adalah, “heiii, bengong mulu nih?” sambil memegang pundak ku, aku pun gak nyangka kalau ternyata wanita itu adalah Rina sahabatku.
”Rinaa.. kamu cantik banget sumpah, kerudung itu…”
“iyah Pury, aku sadar kalau selama ini aku salah banget sama kamu, uda nuduh kamu yang enggak–enggak dan aku lebih percaya cowok bren*sek itu daripada kamu sahabat aku, Rina pun memelukku sambil menangis.
“sudahlah Rin, semua udah berlalu, inilah yang ku harapkan darimu karena aku ngelakuin ini semua buat kebaikan kamu.”
“iya Pury, aku memutuskan untuk terus berkerudung dan memperbaiki semua sikap dan tingkah lakuku selama ini, aku ingin menjadi lebih baik dan aku gak akan ngecewain kamu lagi, kamu sahabat terbaik aku Pur, aku bangga punya kamu..”
Akhirnya Rina sadar kalau cowok itu bukan cowok yang terbaik buat dia, tapi yang paling penting aku seneng banget karena dia udah mau berkerudung dan merubah dirinya menjadi yang lebih baik lagi. Intinya sahabat harus selalu mengingatkan di kala sahabatnya sedang salah, mengajak kebaikan dan menerima kekurangan sahabatnya dengan tulus.
Selesai

Cerpen Karangan: Pury Gayatri

Forever Invisible

Forever Invisible

 Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 15 June 2012

 

Ingatan Dalam Renungan

Ingatan Dalam Renungan

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 26 September 2015

 

Rintik hujan masih telihat menyelimuti gedung gedung sekolah di salah satu SMA NEGERI di Kabupaten Purworejo. Ku rasakan hawa sejuk, sembari mebolak-balik buku Antropologi di depanku yang sedang duduk di kursi panjang depan kelas XII Bahasa, sebentar lagi usai istirahat pertama ada ulangan Antro. Sebenernya sekarang masih jam pelajaran sastra, tapi dikosongkan dengan alasan sang Guru tak bia masuk karena ada alasan yang mungkin tak bisa ditunda. Dan hanya meninggalkan selembar kertas polio yang isinya tugas menulis untuk mengisi kekosongan. Tapi aku sedang malas mengerjakan.
Aku lebih memilih duduk di depan kelasku, kelas XII Bahasa, untuk sekedar merasakan suasana rintik hujan yang menurutku cocok untuk menikmati renungan dalam kesendirian. Entahlah.. Diam diam, aku memandang dua orang cewek di depan kelasnya, XII IPS 3, di seberang lapangan depan. Ku tahu, mereka adalah Ani dan Mimin. Dengan candaan mereka yang aku tak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Senyum Ani yang khas, masih seperti yang dulu. Saat kita masih duduk di kelas yang sama, kelas X B. Namun, berbeda dengan sekarang, senyuman cewek si manis tomboy lagi jutek itu bukan untukku, tak lagi untukku, mungkin tak kan pernah lagi.
Ku ingat saat awal kita masuk di sekolah ini, aku sedang duduk di tepi lapangan sepak bola dengan buku sejarahku.

“Bas, sendirian aja lo, kayak kayak orang hyilang” Kejut Ani yang kemudian duduk di sampingku. Disusul Mimin yang asyik smsan sama gebetannya, ku tahu dia lagi PDKT sama orang yang aku kenal, biarlah, jangan diganggu.
“iyalah, abis pada sibuk sendiri, kamu juga. Apa lagi tu anak di samping kamu, orang temennya di sini malah ngobrol sama orang jauh, smsan mulu.” gerutuku.
“Haha, iya nih anak, makan makan dong. Gebetan baru.” canda Ani menyambungku sambil menepuk bahu Mimin.
“Apaan si, ah. Ya ntar makan makan di kantin, gratis bagi kalian, kalau mau nyuciin piring penjaga kantin. Pasti gratis kok, percaya deh” sahut Mimin seenak dengkulnya.

Yah, begitulah. Banyak candaan mewarnai keakraban kita, mereka adalah cewek yang paling akrab denganku di kelasku, kalau cowok mah banyak. Keakraban kami berlanjut, rasa sayangku pada mereka selalu berlanjut. Dan berlanjut, namun kelanjutan ini berbeda dengan perasaanku ke Ani. Seakan akan genderang perang dipukul bertubi-tubi di hatiku sehingga menghasilkan getaran yang dahsyat saat aku di dekatnya. Apalagi saat Ani tersenyum, ah.. Aku lunglai lemas, tak berdaya. Bagai lilin yang dipanaskan, luluh. Apa perasaanku berubah padanya? Apa aku sayang sama dia? Jadi inikah rasanya? Aku jatuh cintakah? Hari-hari ku lewati dengan biasa, berbeda dengan perasaanku yang tak biasa. Aku ingin mengungkapkan rasaku padamu, An. Diam diam, aku lebih sering curi pandang wajahmu. Eh, aku gak ada tampang maling ya.

Tak terasa Ujian Akhir Semester Genap telah usai, sembari menunggu rapot, anak anak mengerjakan remidi bagi yang nilainya belum memenuhi KKM, termasuk aku, tapi aku gak banyak kok, mepet KKM lagi, hehe. Itu pun kebanyakan karena aku kurang sreg sama Gurunya. Jadi males buat belajar, ya aku sadar, aku salah kalau gini. Mungkin saat-saat seperti inilah waktu yang tepat, aku harus jujur atas perasaanku pada Ani. Ku lihat dia yang sedang bercanda dengan kawan-kawannya. Ku curi pandang senyumnya, manis. Santun, dialah sang Nawang Wulan dengan aku Jaka Tarubnya.
Namun, kali ini berbeda. Dia terlihat jelas membuang muka dariku. Memang begitu. Bukan hanya negative thinking-ku saja. Aku heran, sangat heran. Tak biasanya seperti ini, malah si Mimin juga, ngikut-ngikut juga. Aku coba introspeksi diri. Aku salah ya? Aku salah apa? Kayaknya sebelum ini kita biasa biasa aja. Kalian marah sama aku? Kenapa? Tanda tanya besar selalu muncul saat aku ingat mereka. Saat raut senyum mereka mulai menyenja, meredup. Tertutup.
Mega untuk sekedar sedikit penerang jalan pun tak ada ketika bulan tak muncul. Hujan badai muncul tanpa mendung menandai. Begitu saja ada.
Sms aku pun tak dibalas, aku coba telpon tak dijawab. Duh, perasaanku tak karuan, mungkin genderang perang di hatiku telah berubah menjadi pertempuran antar-suku yang tak lagi mengenal peri perdamaian. Bukannya aku gak mau ngomong langsung, tapi Ani aja yang aneh, gak lagi peduli. Boro-boro ngobrol kayak dulu, ketika jalan ke kelas dan dia lihat ada aku, dia lebih milih berbelok arah dan mencari jalan lain yang menurutku itu jalan yang lucu untuk dilalui, padahal jelas jelas jalan efisien ya ini. Mau maunya dia cape-cape muter, lebih suka cape dianya.

Yang lebih aku gak habis pikir, dia itu kesambet iblis mana, kok muka juteknya bisa tertanam begitu dalam dan berakar saat dia lihat aku sedang memandangnya. Apa wajahku serem yak? Duh, Gusti. Ani, gimana bisa aku tahu salahku dan memperbaiki kesalahanku kalau kamu kayak gini. Ngomong dong An, apa salahku. Mimin juga, padahal aku tahu kalau sebenernya Mimin gak ada rasa benci ke aku, dia cuma ngikut Ani aja, kayak abis dicuci otaknya. Mungkin dia cuma ga enak aja sama Ani. Duh, Ya Allah..
Tiap malem aku berdoa, biar kalian gak benci sama aku, itu aja. Lebih lebih bisa deket kayak dulu lagi. Lebih lagi Ani bisa jadi kekasih aku . Ah! Entahlah… Mungkin hati sama otak Ani udah membatu. Emang dari dulu aku tahu, dia itu keras kepala, jutek, nyebelin, cuek, ah.. Pokoknya ngeselin. Banget. Tapi dia itu sederhana, gak muluk-muluk, cantiknya natural. Ah.. Tapi kenapa harus sampe kayak gini An? Kini, apapun yang aku lakukan pada mereka, bagaikan mencoba eksperimen menjadikan air laut menjadi tawar, boro-boro manis. Berapa potong tebu yang dibutuhin ya? Ah.. Ngaco lo Bass.

Ani, aku pasrah, aku menyerah, aku mengaku kalah dengan cobaan ini. Aku hanya bisa berdoa, semoga kalian baik baik aja, jalan kalian adalah jalan yang menuju kebahagiaan kalian. Biar pun kalian menganggap Bass udah tiada, tapi kalian masih selalu di hati Bass. Aku sayang kalian. Bass masih berharap, semoga kita bisa seperti angka 9 6 (jangan dibalik), terlihat berbeda tapi sebenernya adalah bentuk yang sama.
Aku bukan sastrawan, bukan pula pujangga. Aku cuma nyari cara biar aku bisa ngluarin uneg-uneg. Biar bisa lebih tenang. Apa lagi udah mau ujian nasional. Biar gak banget-banget kepikiran.
Terima kasih.

Cerpen Karangan: Bass Cote’e

Penyesalanku Terhadap Sahabatku Yang Telah Pergi

Penyesalanku Terhadap Sahabatku Yang Telah Pergi

 Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 30 September 2015

 

Aku sekarang duduk di kelas SDN SENGON 01 Batang Pekalaungan. Aku cukup terkenal di sekolah ini. Dan yang buat aku senang di sini aku mempunyai 3 orang sahabat. Kita berempat selalu bersama, mau jajan, mau ke kamar mandi dan kelompok upacara pun kita berempatan juga. Oh ya nama 3 orang sahabatku dia Ayu, Safira dan yang paling deket sama aku yaitu Dwi. Bahkan kita pun bisa dianggap “GENG” di kelas.

Suatu hari waktu itu kami mau menyeberang jalan raya. Saat itu lalu lintas sedang macet. Namun kali ini kami tidak berempat kami berlima. Dia yang kelima namanya Rani, anak kelas 6. Aku gak manggil dia Mbak atau Kakak. Soalnya dia itu orangnya sok-sok baik ke aku. Emang sih dia itu lumayan baik, tapi gak tahu kenapa aku risih sama dia, menurut aku dia itu terlalu lebay. Aku tipe orang yang gak suka orang lebay. Bahkan aku kadang manggil dia Mrs. Lebay. Tapi gak tahu kenapa dia tetep baik sama aku.
Saat mau nyeberang aku nyuruh Rani duluan, soalnya kalau macet aku gak berani nyeberang. Rani udah nyampe trotoar, tinggal aku masih di tengah. Tiba-tiba! ada truk dari arah kanan kenceng banget aku gak sadar. Rani teriak, “Awas ada truk dari kanan!”
Menyadari itu aku langsung Teriak. “Kyaaaaaa!!!” Tiga temanku yang di belakang juga shock banget.
Tapi kok aku gak ngerasa ketabrak ya. Cuma pusing aja. Perasaan tadi ada yang dorong. Ternyata! Rani terkapar lemas di tengah jalan. Darah mengucur deras dari kepalanya. Dan banyak orang mengelilinginya termasuk 3 sahabatku, mereka menangis. Aku pun menghampirinya, aku juga menangis.
“Ran, aku minta maaf, gara-gara aku kamu jadi begini, yang kuat ran. Aku janji kalau kamu udah sadar aku akan manggil kamu Mbak Rani.”

Lalu ramai-ramai orang pun membawa Rani ke rumah sakit QIM. Kita pun mengabari kedua orangtua Rani, Ibunya Rani menangis tak henti-henti.
Setelah menunggu beberapa jam, Dokter pun menghampiri kami, Dokter mengatakan bahwa Rani ingin menemuiku, aku langsung masuk ke ruang ICU ditemani Ibu Rani.
“Yasmin, untunglah kamu selamat, aku cuma mau bilang, tolong dong nyanyiin aku lagu nina bobo. Aku cape, aku pengen tidur.” Kata Rani.

“Iya Mbak.” aku pun menyanyikan lagu nina bobo.
Setelah selesai menyanyikan lagu nina bobo, Rani pun tertidur sambil tangannya ku pegang. Namun aku tidak merasakan denyut nadinya, aku memberitahu Ibunya. Kita yang panik langsung memanggil dokter. Ibu Rani langsung menangis tak henti-henti setelah dokter mengatakan bahwa Rani telah tiada. Aku yang shock langsung keluar ruangan dan memberitahu teman yang lain. Mereka pun juga ikut menangis.
Aku menyesali perbuatanku yang terdahulu ke dia. Selamat tinggal Rani. Maafkan aku atas aku yang dulu dan terima kasih atas kebaikanmu.

Cerpen Karangan: Yasmin Firda Safira

Cinta Pertamaku

Cinta Pertamaku

Cerpen karangan:
Lolos moderasi pada: 2 October 2015

 

Ketika hujan turun, angin dingin sepoi-sepoi yang perlahan membelai helai demi helai rambut gadis itu, yang diperhatikan Vino, yang sedang duduk sendiri menunggu hujan reda. Cuaca saat ini memang tidak bersahabat, tapi saat ini cuaca sangat bersahabat bagi Vino karena dia bisa lebih puas melihat wajah ayunya, bola mata yang bulat, bibirnya yang tipis, dengan penampilan rambut yang diikat ekor kuda dia memang sangat sederhana, tanpa polesan make up sedikit pun tetapi wajahnya sangat ayu yang menarik perhatian.
Di sela kebahagiaan yang Vino rasakan tiba-tiba dia dikejutkan sahabatnya.
“Hayoo!!! Lagi mandang siapa hayoo?” ucap Raka yang tiba-tiba mengejutkan Vino yang sedang terhanyut melihat bidadari impiannya itu.
“sialan, bikin aku kaget aja tahu gak?” ucap Vino kesal karena dia sudah kehilangan kebahagiaan yang ia rasakan tadi, karena hujan sudah reda dan Kimmy pun sudah pulang dijemput Ayahnya, Vino sudah melihat Kimmy masuk mobil Ayahnya Vino pun sudah merasa lega.
“makanya jangan melamun, beraninya merhatiin dari jauh doang, dari deket paling gak berani kamu deketin Kimmy” ledek si Raka sambil menjulurkan lidahnya.
“suatu saat nanti, aku akan berani dan bisa mendapatkannya, ka” itu kalimat yang pertama kali diucap oleh seorang Vino yang sangat cuek tentang masalah percintaan.
Tapi sejak dia masuk SMA dan kenal denganKimmy gadis cantik, anggun, sederhana, pendiam itu hati Vino bisa langsung leleh seperti es krim yang dijemur di bawah sinar matahari. Raka pun hanya terbengong mendengar ucapan sahabatnya itu, ya mereka berdua memang sudah lama berteman dari lahir sampai sekarang, suka maupun duka mereka lalui bersama, canda tawa yang selalu menghiasi persahabatan yang mereka jalani, jadi Raka tahu persis sifat Vino sahabat terbaiknya itu.

Saat bel istirahat berbunyi, itu bagaikan alunan musik indah yang terdengar di telinganya yang dari tadi ditunggu-tunggu Raka si langganan kantin pak kumis, dia memang doyan makan dan seringnya dibayarin sama si Vino. Setelah perutnya terisi dan sebenarnya perut Raka memang gak ada penuhnya, makanya kalau di rumah kerjaannya cuma ngabisin makanan doang, setelah beberapa jam KBM akhirnya bel pulang pun berbunyi, kebetulan mereka berdua satu kelas tepatnya di kelas X.IPA 1 jadi tiap hari mereka nempel terus kayak kertas dilem, gak di rumah gak di sekolah mereka pasti selalu berdua.
Kalau ada Vino ya pasti ada Raka di situ, udah kayak orang pacaran aja deh mereka. Lalu kedua anak manusia itu yang sudah lama bersahabat -ya anak manusia lah, masa anak kingkong- menuju ke parkiran sekolah, tiba-tiba saja Vino melihat Kimmy sedang dibonceng seorang anak laki-laki dan bukan salah lagi dia Kakak kelas intinya gak tahu tapi kelas berapa yang denger-denger katanya jago basket dan plus lagi deket sama Kimmy dan lagi ada yang bilang kalau mereka udah jadian.
Sakit hati Vino saat mengetahui kabar tak enak tersebut, baru kali ini ia benar-benar merasakan patah hati saat cinta pertama yang ia rasakan saat ini, dulu waktu dia masih duduk di SMP banyak kok kaum hawa yang mengaguminya, karena Vino seorang pemain band yang keren dan mempunyai suara laki banget deh tapi sayangnya dia cuek banget sama cewek, makanya jarang cewek yang mau nyoba deketin Vino dan sekarang dia malah lagi tergila-gila sama cewek. Perubahan yang sungguh pesat.
Saat sesampainya di rumah, Vino langsung menuju kamar kesayangannya yang penuh dihiasi oleh poster-poster. Ia tiduran di tempat tidurnya dan Vino masih mengingat kejadian tadi siang saat di parkiran sekolah, hatinya hancur berkeping-keping dan terbakar api cemburu, walaupun dia sadar kalau dia bukan siapa-siapanya Kimmy tapi hatinya merasa tak terima, cowok sekeren Vino dan masih banyak cewek yang berharap kepadanya bisa baru merasakan cinta? Jarang cowok macam ini, cowok langka dan harus dilindungi -emangnya hewan langka!!.
Siang ini cuaca sangat cerah dan seperti biasa kedua sahabat itu akan pergi latihan, biasa namanya juga anak band. Vino jago loh main alat musik apapun, dan dia lebih sering jadi vokalis dan main gitar, di samping itu Vino juga anaknya pendiam dan smart, pasti jadi juara di kelasnya, beda sama sahabatnya, Raka lebih cerewet, pemalas dan gayanya yang kocak. Dan jarang cewek yang tertarik dengannya.
Malam ini kedua sahabat itu pergi ke luar, mereka seperti orang berpacaran saja selalu berdua, saat ini mereka pergi naik mobilnya Vino. Ya Vino memang dimanja kedua orangtuanya, dan keluarga Vino memang mampu dan orang terpandang, Bapak Herman -bapaknya Vino- seorang dokter sedangkan Ibu Linda -Ibunya Vino- pemilik toko butik, ya sudah apapun yang Vino mau pasti akan dituruti.
“ehh vin, stop dulu mobil kamu, stopp!!” teriak Raka di dalam mobil seperti sedang diculik, Vino pun kaget dan langsung menginjak remnya dengan mendadak.
“ada apa sih?!” tanya Vino kesal karena Raka sudah menganggetkan.
“itu ada Kimmy, cepet gih antar dia balik, kasihan dia pasti lagi nunggu taksi dari tadi gak ada” ucap Raka sambil medorong-dorong Vino yang ragu-ragu untuk ke luar dan menuruti ucapan temannya itu, karena Vino sudah kesal sudah didorong-dorong si Raka akhirnya ia ke luar dan menghampiri Kimmy yang sedang duduk sendiri.
“hey Kimmy, kamu kok di sini sendirian?” tanya Vino gugup, dan ini pertama kalinya Vino mendekati cewek dan berniat akan mengantarkannya pulang.
“iya nih vin, aku lagi nunggu taksi gak ada” ucapnya lembut serta dihiasi senyumannya yang manis dan manisnya seperti madu.
“emm.. emm mau aku antar pulang?” tawar Vino.
“kamu gak keberatan vin? rumah kita kan gak searah?” tanya Kimmy balik.
“gak papa kok kim, aku malah gak tega lihat cewek malem-malem gini sendirian, takutnya ada yang ganggu kamu ntar” ucap Vino dengan senyuman tipis dan banget groginya tangannya sampai gemeteran.
“ya udah deh, aku mau.” ucapnya dan dalam hati Vino senengnya pake buanget, akhirnya Vino membukakan pintu mobilnya untuk Kimmy, dan langsung pergi ke rumah Kimmy.
“hay Kimmy, gimana kabarnya?” sapa Raka yang sedang duduk di belakang.
“loh kok ada kamu ka?” tanya Kimmy dan terbengong melihat Raka yang tiba-tiba juga di mobilnya Vino.
“iya, kamu kayak gak tahu aja, kalau ada Vino kan pasti ada aku, kecuali kalau dia lagi kencan sama ceweknya tapi kasihannya Vino sampe saat ini belum punya cewek” bisik Raka dan walaupun Raka bicara selirih apapun Vino masih dengar, tetep aja suaranya kayak badai petir.
Dengar cerita Raka, Kimmy hanya tersenyum, dan menggelengkan kepala saja.
“ya gak mungkinlah ka, banyak kan cewek yang berharap sama Vino, siapa coba yang gak mau sama Vino” ucap Kimmy yang ke luar dari mulutnya dan membuat Vino jadi merasa terbang. Yah jadi salting deh tuh anak.
“lah kalau kamu sendiri mau sama Vino?” tanya Raka lagi.
“haduh, nih anak sialan banget sih.” ucap Vino dalam hati.
“oh ya habis ini kita belok kiri ya vin” ucap Kimmy tanpa menjawab pertanyaan Raka, yah tapi bagi Vino sudah dijawab, itu tandanya Kimmy memang tidak tertarik dengannya.
Lalu mereka berdua bertemu kedua orangtua Kimmy. Dan disambut sangat ramah.
“alhamdulilah kamu udah sampe nak, makasih ya dek udah nganterin Kimmy pulang” ucap Ibu Kimmy senang.
“iya bu,sama-sama”
“yuk main dulu dek,” tawar Papahnya Kimmy dengan ramah, sebenarnya Vino mau banget tapi dia gak bisa pulang larut malam dan bisa-bisa nanti pulang dimarahin Ibu dan Bapaknya. “makasih pak, tapi sudah larut malam, nanti dicariin orangtua kami pak” ucap Vino dengan kalemnya.
“iya sudah sekali lagi makasih ya dek, kapan-kapan main ke sini ya?”
“iya bu, insya allah” dan tiba-tiba ada cowok yang kemarin siang membonceng Kimmy saat pulang sekolah, ke luar dari rumah Kimmy.
“loh kok nih cowok ada di rumah Kimmy,” Tanya Vino dalam hati.
“oh ya, kenalin vin, ka, ini Kakakku dan satu sekolah sama kita, kamu sering lihat kan?” ucap Kimmy memperkenalkan Kakaknya dan ternyata gossip itu tidak benar, cowok itu bukan pacarnya Kimmy yang baru tapi Kakaknya yang baru pindah sekolah dan sekarang jadi satu sekolah dengan Kimmy. Dan setelah kami bersalaman lalu pamit pulang.
“hahaha ternyata ada yang gak jadi patah hati nihh ye?” ledek Raka di dalam mobil.
“iya nih, kamu payah ka, kasih informasi gak pernah ada yang bener.”
“eittss dulu kan pernah waktu aku kasih tahu kalau nasi rames di kantinnya pak kumis jadi 5000, tuh bener kan?” jawab Raka dan menatap wajah Vino yang kalem itu.
“hem soal makanan aja kamu bener, yang lainnya enggak, ditanya kaki sapi ada berapa aja salah” ucap Vino datar dan mereka berdua pun hanya tertawa terbahak-bahak mengingat kejadianitu, saat mereka sedang dihukum Pak Yanto guru olah raga karena mereka berdua terlambat datang.
Sesampainya di rumah hati Vino riang gembira dan banget gembiranya baru sampe rumah saja langsung nyapa ramah Ibunya. Tak seperti biasanya pasti selalu Ibunya dulu yang nyapa anak tunggalnya itu.
“aduhh anak Ibu kok kayaknya seneng banget? kenapa sayang, cerita coba?” tanya Ibu Linda penasaran.
“itu loh Tante, tadi Vino habis nganterin bidadari impiannya pulang” ceplos Raka.
“bidadari sapa ka maksudnya?” Tanya Ibu Linda bingung.
“maaf mah, Raka nih lagi agak kumat, tadi anak orang aja mau diculik, maklumin aja.” jawab Vino lalu menarik narik Raka ke kamarnya, Raka memang anaknya bawel dang gak bisa jaga rahasia, dari dulu sampe sekarang.
“hahaha…” Raka tertawa terbahak-bahak sudah seperti lihat tikus lagi gendong anjing.
“gak usah ketawa kamu, gak usah cerita sama Ibuku apa lagi Ayahku, bisa-bisa ntar nanya kayak wartawan, Kimmy kan cinta pertamaku, jadi asing banget buat mereka berdua”
“haha, iya deh iya, Vino yang ganteng dan kerennya selangit.” ledek Raka yang tak ada habisnya.
Pagi ini sangat cerah, tak seperti biasanya Vino dan Raka datang lebih awal karena Raka dipaksa Vino biar cepet-cepet pengen ketemu Kimmy pujaan hatinya itu.
“huaahh!! ngantuk banget aku vin, masih pagi buta gini biasanya aku masih di arab, sekarang udah otw mau ke sekolah,” ucap Raka sambil mengucek-ngucek matanya yang masih setengah merem, gak tau tadi mandi apa engga tuh anak. Meleknya cuma tadi waktu sarapan doang.
“sekali-kali lah, aku gak tahu kenapa sekarang jadi semangat banget ke sekolah,” jawab Vino semangat sambil mengendarai motor gedenya itu.
“iya kamu sih ada Kimmy yang bikin melek, lah aku paling supainah yang bikin aku melek karena tiap ketemu aku pasti aku dikejar-kejar sampe ngos-ngosan.” jawab Raka yang membuat Vino tertawa terbahak-bahak.
“haha, mungkin dia jodoh kamu, dan yang terbaik buat kamu ka,” ledek Vino lagi.
“tahu ahh, mending aku gak nikah deh kalau sama dia”
Sesampainya di sekolah tiba-tiba Vino disambut bidadarinya yang makin hari makin cantik aja.
“hay vin, makasih ya buat yang kemarin malem, kalau gak ada kamu, aku gak tahu sampe rumah jam berapa.” ucap Kimmy berterima kasih.
“iya kim, sama-sama, aku seneng kok bisa nganterin kamu”
“iya syukurlah, oh ya besok malam kamu main ke rumahku ya? mau kan?” tawar Kimmy disertai balutan senyumnya yang manis tiada tara.
“hah, mau banget kim, oke besok malem aku ke rumahmu” jawab Vino dan dia sangat gembira diajak main ke rumah Kimmy pujaan hatinya.
Dan malam ini, Vino pun bersiap-siap akan ke rumah Kimmy, dan gak lupa dia membawa bunga mawar merah yang besar dan indah, dan tentunya mahal. Setelah pamit dengan Ibunya Vino di tengah perjalanan sangat gugup, hatinya berdegup sangat kencang. Dan tiba di rumah Kimmy Vino bingung kenapa di rumahnya Kimmy banyak sekali orang, dan Vino pun mencoba masuk dengan kerumunan orang-orang yang sedang berkumpul di rumahnya Kimmy, dan Vino langsung menjatuhkan bunga yang dibawanya untuk Kimmy, Vino terdiam dan berdiri kaku seperti patung saat melihat jenazah Kimmy di ruang tengah sedang dibacakan doa para tetangganya.
Dan Vino juga melihat hanya tangisan, Vino tak percaya semua ini, apa dia hanya mimpi, tiba-tiba Kakaknya Kimmy -kak Sammy- menghampiri Vino dan berkata padanya.
“aku pun tak percaya Kimmy terlalu cepat diambil, dia Adik yang penurut, dan kata terakhir yang diucapkan Kimmy padaku, kalau dia sudah lama memendam perasaan kepadamu vin, tapi dia tak berharap besar karena dia cerita padaku kalau kamu cuek dengan cewek. Makanya Kimmy gak mau ngdeketin kamu” jelas kak Sammy.
Vino hanya bisa terbengong dan menyesal kenapa gak dari dulu dia deketin Kimmy.
“aku gak tahu kak kalau Kimmy menaruh rasa padaku, kenapa Kimmy bisa seperti ini?” tanya Vino dengan lirih.
“dia tertabrak mobil ketika pulang sekolah, dan nyawanya tidak dapat terselamatkan. Kata yang diucapkan Kimmy saat sempat di rumah sakit hanya memanggil namamu vin, dia sayang sama kamu,” jelas kak Sammy lagi yang membuat Vino sangat sangat terpukul.
Cinta pertama Vino sudah pergi, pergi meninggalkan Vino untuk selamanya.

Cerpen Karangan: Kenny Maryadi

Kisah Gokil di SMA

Kisah Gokil di SMA

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 5 October 2015

Ku tatap nanar sebuah album foto dengan sampul hijau muda di halaman depan dan sampul hitam di belakangnya. Tampak kusam dan berdebu. Perlahan jari-jemari yang lancip meraba album ini. Membekaskan noda-noda di balik kulitku. Kemudian ku buka perlahan lembaran demi lembaran. Di setiap potretnya ku pandangi satu persatu yang mengingatkanku pada masa itu. Aku berpijak pada saat itu. Masa lalu paling gokil, SMA.

Kring! Kring! Bel sekolah berbunyi. Inilah kita biar dikata bandel tapi nggak pernah telat. Seperti halnya di sekolah-sekolah lain, aku, Acha, Widi dan Vina, mempunyai geng bernama DiVA. DiVA-nya sekolahku yang berarti singakatan nama kami berempat. Devi, wIdi, Vina dan Acha.
“Ehm.. Pagi semuanya.” Sapa seorang perempuan yang memasuki ruang kelas kami, Bu Indri guru kami yang mengajarkan pelajaran sejarah.
“Yah, bosan banget gue pelajaran ini.” Kataku berbisik kepada Acha, Widi dan Vina.
Awalnya aku mengikuti pelajaran ini dengan giat, tapi lama kelamaan cerita-cerita yang dilontarkan dari bibir Bu Indri malah membuatku mengantuk. Akhirnya tanpa sadar, mataku tertutup dan aku pun tenggelam dalam tidur nyenyak di meja kelasku akibat pelajaran sejarah yang menurutku membosankan, membuat jenuh dan sejuta alasan lainnya yang membuatku memutuskan untuk tidur. Gawatnya, sebelum aku pulas tertidur Bu Indri sudah melihatku dan menegur untuk tidak melanjutkan tidurku, sorakan teman-teman pun terngiang di telingaku. Dan aku hanya memasang ekspresi stay cool saja seperti tidak ada kejadian apa-apa.
Tak lama setelah itu Bu Indri izin ke luar sebentar dari kelasku bersamaan dengan salah satu teman sekelasku yang sering kami jadikan bahan bully-an, yang mati gaya, nggak peduli gaya, semua kancing baju dimasukkan, memakai kacamata besar, gak suka diganggu, suka diam tanpa kata, pergi atau jalan-jalan sendiri, itulah dia teman culun kami, Ratna.
“Eh eh kita kerjain tuh anak yuk?” Kataku mengajak Acha, Widi dan Vina.
“Kerjain apa?” Jawab Acha tanpa mengalihkan pandangan dari handphone-nya.
Aku berpikir panjang lebar untuk menemukan sebuah ide dan akhirnya aku pun mempertegas rencanaku. “Ayo udah ikutin gue aja.”
Akhirnya Acha, Widi, dan Vina mengikuti perintahku dan mengikuti ke mana arah Ratna pergi dari belakang. Ternyata ia pergi menuju toilet yang agak jauh dari ruang kelasku.
“Dev, gue punya ide bagus nih.” Kata Vina kepada kami bertiga sambil mengulurkan kepalanya yang mendekati menandakan bahwa ia akan membisikkan ide tersebut.
“Ide bagus Vin, ah kadang lo pinter juga.” Kata Acha sambil menyenggol badan Vina.
Aku, Acha, dan Widi mengikuti aturan permainan Vina bahwa ketika nanti Ratna ke luar dari toilet tersebut Widi akan mengguyurkan air tersebut tepat pada waktu bocah culun itu ke luar dari toilet.
“Oke sekarang yaaa, satuuu, duaa, tii…gaaa!!”
Byuurrr!!!
“Mati gue..” Dengan spontan Widi langsung menjatuhkan ember yang berisi air tadi. Ia terkejut dengan apa yang dilihat di depannya. Salah sasaran. Salah tujuan. Salah nembak. Salah orang. Salah, salah, dan s-a-l-a-h. Ya, kami berempat salah mengguyukan air itu tepat pada Ratna, melainkan yang kami berikan seember air tersebut kepada guru sejarah kami, Bu Indri.
Aku, Acha, Widi dan Vina langung lari selepas kejadian ini. Kami menghiraukan teriakan Bu Indri yang menggelegar itu sambil menyebutkan nama kami berempat. Rasanya aku ingin menyebur ke sumur atau bungee jumping dari menara Eiffel tanpa tali pengaman.
Dari kejadian ini, kami berempat dipanggil ke ruang kepala sekolah dan berhadapan langsung dengan kepala sekolah. Kami berempat berjalan ke ruangan itu dengan saling menatap. Sampai di sana.
“Kalian ini gimana sih, kalian itu udah kelas 12. Seharusnya belajar yang bener, yang rajin buat UN nanti. Gak kayak gini malah main-main. Balik lagi aja ke SD kalau masih mau main-main lagi. Jangan cuma status “DiVA” aja yang buat mengeksiskan nama kalian, tapi yang harus kalian tonjolkan di sana itu adalah prestasi dari anak-anak “DiVA” yang baik. Gunakanlah waktu kalian ini sebaik mungkin, biar kedepannya nanti gak nyesel. Masih ada beberapa bulan lagi waktu kalian belajar di sini, jangan kalian sia-siakan. Saya gak mungkin mengeluarkan kalian dari sekolah ini, karena kalian ini udah kelas 3. Ubahlah sikap buruk kalian itu. Kalau kalian nggak ngerubah sikap itu saya nggak akan meluluskan kalian. Buktikan pada saya kalau kalian nanti bisa lulus dengan nilai UN yang memuaskan. Mengerti kalian?” Kata kepala sekolah panjang lebar kepada kami.
“Ngerti pak.” Balas kami menjawab dengan kompak sambil menundukan kepala diiringi tangan yang berada di depan membentuk huruf V.
Sebagai hukuman atas kejadian ini, kami berempat akhirnya diberi hukuman membersihkan toilet sekolah. Dengan penuh emosi dan rasa kecewa, saat menjalani hukuman hanyalah keheningan yang ada di antara kami. Terasa membeku di antara kami berempat. Kebisuan yang semakin mengiris keretakan di antara kami menjadi semakin dalam. Hingga akhirnya.
“Dev, semua ini gara-gara lo. Kalau kita gak ngikutin si culun itu ke toilet kita gak bakal kayak gini.” Kata Acha memulai perbincangan.
“Iya Dev, semua karena lo nih. Kalau kita gak dilulusin gimana? Emang lo bisa berbuat apa sama kita-kita?” Tambah Widi namun aku hanya diam.
“Ini kan SMA, seneng-seneng aja dulu.” Balas Vina seakan-akan dia cuma ngomong bahwa harga semangkuk bakso itu lima ribu perak.
“SMA, SMA, mikir Vin mikir.” Ujar Acha kesal.
Setelah kejadian itu akhirnya Acha, Widi dan Vina menjauhiku. Ketika aku berusaha mendekat, mereka malah menjauhiku. Sering aku usahakan begitu, namun hasilnya sama saja tetap nihil. Sekarang ini hanya satu yang menggambarkan hatiku: sepi. Aku sangat menyesal atas kejadian itu. Dengan malas-malasan dan tidak bersemangat. Aku mengaduk kembali es tehnya. Memperhatikan butiran-butiran gula yang belum larut, menyebar di antara es batu dalam gelas itu. Aku hanyut dalam lamunanku di meja kantin seorang diri. Tapi tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.
“Hei Dev, sendirian aja. Terus ngelamun lagi. Hati-hati kesambet loh.” Ucap Gilang padaku diiringi senyumnya yang manis seperti rasa dari es teh yang tengah diminumku tadi.
Aku agak terkejut, ku tatap Gilang sekilas, tapi entah kenapa aku merasa degupan jantung ini terlalu kacau. Ditambah lagi melihat senyumnya Gilang yang menawan sudah membuatku tak karuan. Aku merasa sebentar lagi akan kejang-kejang. Maka aku memutuskan untuk menunduk saja. Daripada aku kena serangan jantung di sebelah Gilang? Betapa memalukannya, mati muda di sebelah seorang pangeran. Berbicara soal Gilang, Gilang itu adalah orang yang aku suka sejak pertama kali masuk kelas 10 dulu. Jadi selama dua tahun lebih ini aku hanya bisa terpana dan mengagumi Gilang dari jauh. Tapi sekarang? Sejak kami berdua sekelas, aku mengenal dia lebih jauh dan begitupun dirinya padaku.
“Hehehe, iya nih.” Balasku singkat.
“Biasanya lo ke sini bareng anak-anak DiVA. Kok sekarang ini gue perhatiin lo jarang banget main sama mereka. Ada apa? Cerita-cerita dong Dev..” Tanyanya.
“Wah jadi selama ini lo merhatiin gue lang?” Mendengar kata-kata tadi, pipiku semakin berwarna dengan rona merah.
“Yee, geer banget lo. Udah cerita dong, penasaran nih…” Ujarnya.
Akhirnya aku ceritakan semuanya dari awal sampai saat ini. Dan dia memberiku gagasan untuk mendekati lagi dan meminta maaf kepada Acha, Widi, dan Vina. Aku pun mengiyakan saran dari Gilang. Setelah itu, aku mengakhiri perbincangan dengan Gilang di kantin. Saat itu aku langsung tancap gas menemui Acha, Widi dan Vina. Saat aku telah berhasil mencari mereka, awalnya mereka terus menjauhiku tanpa mau mendengarkanku. Aku berusaha mendekati dan meminta maaf kepada mereka, hingga akhirnya Acha, Widi dan Vina mau memaafkanku. Aku tersenyum lega saat mereka mau memaafkanku. Tak lupa saat itu pula aku dan ketiga sahabatku ini, meminta maaf kepada guru kami, Bu Indri yang kami guyurkan seember air. Juga kepada Ratna yang kami sering jadikan bahan bully-an.
Sejak saat itu kami berempat berjanji untuk mengubah sikap buruk kami menjadi yang lebih baik. Belajar, belajar, dan belajar serta fokus pada UN. Tak lupa kami iringi dengan doa serta restu dari orangtua untuk mencapai tujuan dan cita-cita kami masing-masing. Hingga saatnya tiba, hari dimana kami semua mengikuti ujian dengan penuh ketegangan dan akhirnya perjuangan kami tak sia-sia, semua lulus UN dan mendapatkan nilai yang memuaskan.

Ku tutupkan album foto itu sambil tersenyum melihat kisah-kisah gokil yang pernah ku alami selama di SMA saat itu. Aku sangat merindukan mereka. Kini. Kini aku telah menjadi seorang istri dari Gilang, teman SMA-ku dulu. Dia yang membuatku jatuh cinta padanya, yang dulu aku gila-gilakan, yang menurutku adalah bintang yang selalu menggantung di antara galaksi, selalu bersinar meskipun malam tak pernah menawarkan kehangatan, yang entah sejak kapan perasaan sederhana itu tumbuh begitu saja seiring berjalannya waktu.
Hingga akhirnya aku telah bersamanya sampai hari ini. Hari ini, adalah hari aku dan Gilang akan mendatangi acara reuni SMA kami di sebuah tempat. Saat sampai di sana aku, Acha, Widi dan Vina saling berpelukkan. Pelukan yang mewakili perasaan rindu atas kebersamaan kami berempat. Perasaan itu meluap dengan saling berbagi cerita-cerita di masa itu tentang kisah-kisah gokil kami di SMA.

Cerpen Karangan: Rissa Febrianita Anggraini

Rabu, 07 Oktober 2015

Misteri Diary Flora



Misteri Diary Flora

 Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 7 October 2015

 

Namaku Anisa Intan Lestari. Biasa dipanggil Anisa atau Intan. Aku dulu mempunyai teman yang bernama Flora. Tetapi, sekarang dia sudah pindah ke luar negeri. Tetapi, dia memberiku 1 buku diary-nya yang selalu dia tulis setiap hari setiap dia mengalami suatu hal yang menyenangkan, menyedihkan, atau pun yang dibencinya. Saat ini, aku masih penasaran dengan perjalanan bukunya. Buku ini berisi suatu rahasia yang paling dia pendam. Kata-kata terakhir yang ku dengar saat dia mau pindah adalah,
“An, ku berikan seluruh rahasiaku. Dulu, saat aku membicarakan benda yang selalu kubicarakan padamu, kau selalu ingin tahu. Sekarang, jika kau ingin tahu, semua petunjuknya ada di sini. Pecahkan semua kata-kata rahasianya. Dan, kau akan menemukan jawabannya. Aku yakin kau bisa. Selamat tinggal Anisa, ku harap kita bisa bertemu lagi.” Itulah kata-kata terakhir yang saat ini masih ku ingat.

“Oh. Bagaimana caranya aku memecahkan rahasia ini?” kataku saat mengingat isi buku diary Flora.
“Kau kenapa An? Kenapa kau bicara sendiri?” Tanya Riri yang heran melihatku.
“Ah. Riri. Begini, kau masih kenal Flora bukan?” tanyaku.
“Flora? Ya! Aku masih ingat. Dia yang pindah itu kan?” Tanya Riri yang masih mengingat Flora.
“Begini, saat dia hendak pergi, dia memberikan aku buku diary-nya, dan, saat itu, kau masih ingat kan? Flora selalu membicarakan benda yang selalu ingin kita tahu?” Tanyaku lagi.
“Hm? Hem. Oh. Itu, ya, aku masih ingat, memang kenapa?” Tanya Riri lagi.
“Jawabannya ada di dalam buku ini. Jika kau ingin tahu, ayo kita pecahkan bersama.” ajakku pada Riri.
“Hm. Bagaimana ya? Aku tidak tahu nanti boleh main atau tidak.” jawab Riri agak gugup takut jika aku marah.
“Ayolah. Ini demi tahu jawabannya. Bukannya kau selalu ingin tahu?” bujukku dengan penuh harap. “Hm. Bagaimana ya? Hem. Coba nanti aku Tanya dengan orangtuaku. Boleh atau tidak.” kata Riri.
“Oke.”
Kemudian, saat istirahat kedua, Aku pergi ke kantin sendirian. Aku membeli semangkuk mie ayam dan segelas es the manis. Aku hanya termenung memakan makanannya itu.
Tiba-tiba, Riri dan Dina datang.
“Hei Anisa.” Sapa Dina.
“Eh. Oh. Dina, hei juga.” Kataku lemas.
“Kau kenapa? Are you sick?” Tanya Dina.
“Enggak kok. Aku tidak sakit. Hanya, aku lemas saja.” jawabku.
“Why?” Tanya Dina lagi.
“Oh. Dina. Kau selalu. Saja ingin tahu masalah orang lain.” kata Riri.
“Hei! Aku tidak seperti itu Ri. Setidaknya aku lebih beruntung daripada Hida.” kata Dina.
“Emang, Hida itu siapa?” Tanyaku penasaran.
“You don’t know Hida?” Tanya Dina kaget.
“Aku memang tidak tahu. Lagian, dia kelas berapa?” Tanyaku lagi.
“Kuberitahu. Hida adalah anak kelas 4 B. Dia pindahan. Tetapi, banyak yang tak suka dia karena dia selalu saja ingin tahu. Setidaknya lebih bagus aku.” kata Dina mengunggulkan dirinya sendiri.
“Kau ini!” kata Riri tertawa kecil mendengar perkataan Dina.
“Oh. Sudahlah.” Kataku.
Saat sudah pulang sekolah, Aku segera pulang dan membaca kembali diary milik Flora lagi. Aku membacanya dengan penuh harap dapat memecahkannya. Aku tak menyangka jika Riri dan Dina akan datang ke rumahku. Beginilah ceritanya.
“Ri, kita akan ke rumah Anisa nih?” Tanya Dina.
“Yap! Betul sekali! Ayo cepat.” ajak Riri cepat. Mereka sudah sampai di depan rumahku.
Tok tok tok.
“Ya? Eh. Riri, Dina. Mau cari Anisa? Anisa ada di dalam. Ayo masuk.” kata Ibuku mempersilakan Riri dan Dina masuk.
“Anisa. Ini ada Riri dan Dina!” panggil Ibu kepadaku.
“Ya!!” kataku menjawab Ibu.
“Riri! Dina! Ke atas saja.” panggilku pada Riri dan Dina.
Riri dan Dina segera ke atas dan masuk ke kamarku.
“Wow. An, kamarmu bagus. Luas, cantik, indah, lucu, dan bikin mau di sini terus. Ada TV-nya lagi. Wah, pasti kamu seneng banget ya? Wow. Eh! Ada kamar mandi dalam. Wow.” kata
Dina terkagum-kagum akan keindahan kamar Anisa yang sangat indah.
“Hehe, terima kasih, lagian, ada apa kalian ke sini?” Tanyaku.
“Oh. Kita mau membahas tentang diary Flora.” kata Riri.
“Oh. Iya! Hehe. Nih, Ini buku diary-nya.” kataku sambil memberikan bukunya.
Riri dan Dina membacanya dengan penuh konsentrasi. Apakah kata-kata itu rahasia atau bukan.
“Hm. Eh! Ini bagian terpentingnya! Ini petunjuk letak benda itu!” kata Riri.

Dear diary.
15 September 2012
“Sebenarnya, aku ingin memberitahu Anisa dan yang lain tentang benda itu. Untungnya, aku sudah mempunyai rencana untuk memberikan buku ini pada Anisa agar dia tahu benda apa yang ku maksud. Ku harap, dia mengerti.”
Dear diary.
16 September 2012
“Bagaimana ini? Sebentar lagi, aku harus pergi dari sini. Aku masih betah di sini. Masa, harus pindah secepat ini? Aku masih ingin bersama Anisa dan yang lain. Oh. Bagaimana ini?”
Dear diary.
17 September 2012
“Untuk Anisa teman baikku bahkan sahabatku. Aku sengaja memberikan diaryku agar engkau tak penasaran apa yang selalu ingin kau tahu. Sekarang, kau boleh tahu. Tetapi, kau harus memecahkan petunjuk ini. Di sebelah tempat berlindung orang tua yang ku kenal, di bawah sebelah taman wangi yang sangat ku sukai, di bawah pijakan kaki manusia untuk beristirahat. Bagaimana Anisa? Apa kurang jelas? Aku yakin sudah sangat jelas. Jadi, berjuanglah!!!
Salam,
Flora Artunasia”
“Hm? Apa ini?! Ini sungguh sulit!” kata Riri tak percaya.
“Kan, sudah pernah ku bilang.” kataku.
“Tapi, kau tak bilang kalau sesulit ini!” kata Riri.
“Hmm. Ya sudahlah.” kataku mengalah.
“Tapi, tulisan Flora bagus banget..” potong Dina.
“Ya! Dia memang bagus kalau menulis.” kataku.
“Aku suka banget tulisannya. Sayang, dia sudah pindah. Tapi, dia pindah ke mana?” tanya Dina.
“Dia pindah ke Eropa. Kalau negaranya, kurang tahu..” jawabku.
“Sudah! Ayo kita berpikir untuk ini!” potong Riri.
“Oke..” jawab Dina dan aku.
“Hm. Masalahnya, ini bagaimana? Orang tua yang Flora kenal? Tempat berlindung? Apa maksudnya?” kata Riri yang berpikir keras.
“Hm. Orangtuanya? Tidak mungkin. Flora saja pindah, apalagi orangtuanya. Hm. Bibinya? Pamannya? Kakek? Nenek?” pikir Riri.
“Hm. Bibi dan Pamannya tidak ada yang di sini. Kakeknya, sudah meninggal. Jadi, yang masih itu.” aku, Riri dan Dina saling menatap mata dan seperti mengerti. “NENEKNYA!!” seru kami.
“Tapi, aku tidak tahu di mana Neneknya, apa maksud tempat berlindung ini rumah? Penginapan? Villa? Atau apa?” tanya Dina.
“Hm. Sepertinya rumah. Kau tidak tahu? Di sini tidak ada Villa, penginapan, atau hotel, atau apalah itu! Di sini itu perkampungan yang seperti perumahan.” jawabku dengan nada tinggi.
“Hm. Iya juga ya? Ada yang tahu rumah Nenek Flora?” tanya Dina.
“Oh!! Aku tahu! Nenek Flora bernama Frida kan? Nenek Frida?” tanya Riri.
“Hm. Tunggu dulu. Ya! Itu namanya!” jawabku.
“Aku tahu! Tak jauh dari rumahku. Ayo ke sana!” ajak Riri.
Setelah kami sampai di rumah Nenek Frida, beliau sedang membaca koran. Nenek Frida belum terlalu tua. Umur beliau baru 61 tahun. Jadi, masih agak muda. Lalu, Aku, Riri dan Dina memberi salam pada Nenek Frida.
“Assalamualaikum Nek..” salam Riri.
“Waalaikumsalam. Eh. Riri. Ada apa nak? Apa ada perlu dengan Nenek?” tanya Nenek Frida hangat menyambut Riri, Aku, dan Dina.
“Begini nek, Ini Anisa dan Dina. Hm. Kami hanya mau melihat. Melihat…” suara gugup mulai ke luar dari mulut Riri.
“Melihat? Melihat apa? Melihat taman bunga Nenek?” tanya Nenek Frida bingung.
“Oh. Ya! Kami mau melihat taman bunga Nenek. Nenek bersantai saja. Kami hanya ingin melihat-lihat saja kok..” kata Riri.
“Oh. Baiklah. Silahkan, Nenek akan di sini.” kata Nenek ramah.
“Terima kasih Nek!” ucap Riri, Aku dan Dina sambil tersenyum.
“Now? Apa itu ‘di bawah pijakan kaki manusia untuk beristirahat?’ Sulit sekali..” tanya Dina.
“Hm.. Pijakan kaki? Tanah? Atau lantai atau apa?” pikir Riri.
“Tempat untuk bersitirahat. Hm. Kursi? Tempat tidur? Atau apa?” pikirku keras.
“Hello.. Di sini adalah halaman belakang rumah Nenek Frida.. Mana mungkin untuk tidur? Lagi pula, mengapa Flora menulis di rumah Nenek Frida? Dan, apa kau tidak malu masuk ke rumah Nenek? Bahkan, kamarnya? Atau kamar siapa?” tanya Riri dengan nada tinggi.
“Betul juga. Eh.. Ada bangku, aku mau duduk dulu ah. Cape.” kataku duduk di bangku warna hijau di depan taman bunga mawar.
“Hm. Mawar. Bunga yang paling disukai oleh Flora. Hm.” kataku sambil menghirup bunga mawar. “Tunggu dulu! Mawar? Bangku? Rumah Nenek? Oh. Aku tahu jawabannya!!” seruku keras sekali.
“Hei! Ada apa kau teriak-teriak?” kata Riri kaget.
“Aku tahu maksud dari kata-kata itu!” seruku dengan tak jelas.
“Apa yang kau maksud?! Kata-kata apa?!” tanya Dina dengan nada sangat tinggi.
“Aku tahu maksud dari petunjuk di diary Flora.. Dan aku juga tahu di mana letak benda itu!” kataku bersemangat.
“Apa? Di mana?” tanya Riri penasaran. “Jadi, maksud dari tempat berlindung orang tua yang Flora kenal adalah Neneknya. Neneknya sangat sayang padanya, jadi, dia meletakkan beberapa petunjuk lagi. Dan, taman wangi yang dia favoritkan maksudnya taman bunga, dan, favoritnya adalah mawar. Dan, di bawah pijakan kaki manusia untuk beristirahat maksudnya adalah Bangku. Dia sangat mudah lelah dan jika dia lelah, dia lebih suka duduk daripada langsung tiduran. Jadi, jawabannya ada di bawah bangku ini!” jelasku sangat bersemangat dan segera memindahkan bangku hijau itu.
“Hem? Oh.. Ah.. Aku mengerti! Ayo pindahkan bangku ini!” ajak Riri.
“Aku sedang berusaha.. Ayo bantu aku!” perintahku.
Dan, setelah bangku digeser, Dina segera mengambil skop untuk menggali tanah. Dan, saat digali. Sebuah kotak berhasil ditemukan. Aku, Dina dan Riri terheran-heran bukan main. Kenapa hanya kotak saja? Dan, kenapa sebuah kotak harus menjadi rahasia? Tanpa berpikir panjang, Dina segera mengambil kotak.
“Hei. Kotak ini terkunci. Ada gemboknya juga. Bagaimana ini?” tanya Dina terkejut saat kotak tak bisa dibuka.
“Hm. Tunggu! Aku mau lihat bentuk lubang kuncinya.” kataku menghentikan. Aku pun mengeluarkan kalung yang ada bandul kunci.
Saat diberi oleh Flora, aku tak tahu kalau ternyata, itu adalah kunci untuk kotak itu. Flora juga memakai kalung yang sama. Jadi, kotak itu mempunyai 2 kunci yang dimiliki oleh 2 orang. Yaitu, aku dan Flora. Aku langsung membuka kotak itu. Dan.. berhasil! Kotak berhasil dibuka!
“Hah?! Kotaknya terbuka! Ayo cepat buka! Dan lihat apa isinya!” kata Riri cepat.
“Oke! Sekarang. Ayo kita lihat rahasia yang terpendam oleh Flora!” ajakku. Dan, ternyata isinya. Hanya kertas, kalung yang sangat indah, dan sebuah buku yang sudah rusak.
“Hm? Apa ini?!” kata Riri bingung.
“Tunggu! Sebaiknya, ayo kita baca dulu!” ajakku menenangkan Riri.
18 Desember 2012
“Untuk semua keluargaku, terima kasih karena sudah memberikan segala kasih sayang kalian untukku. Aku sangat bahagia bisa memiliki saudara seperti kalian. Untuk semua temanku, juga Anisa, kau telah berhasil menemukan benda yang selalu aku bicarakan, tapi aku sudah pergi. Tak apa kan? Hanya, suatu kenangan. Aku akan memberikan beberapa kalimat untukmu. Senin ku tunggu kau tak ada, Selasa pun sama, Rabu pun sama. Kamis masih ku tunggu, pagi atau malam, ku setia menunggu. Kapan kita bisa bersama, walau ini sangat sakit. Ku tak tahu apakah ini, akan menjadi yang terakhir. Maaf ya Anisa? Hanya ini yang bisa ku berikan untukmu. Dan. Oh ya! Kalung itu harus kau jaga dengan baik! Jika tidak, kita tidak akan berteman! Hahaha. Bercanda kok. Tapi An, jaga baik-baik kalung itu. Saat kau buka liontinnya, kau akan tahu. Dan, baca saja buku itu. Aku yakin kau pasti tahu apa maksud buku itu.”
Aku, Dina dan Riri ternganga. Tak bisa menahan tangisan itu. Oh.. Flora, kenapa kau pergi?
“Eh! Nis, aku mau lihat kalungnya..” pinta Riri.
“Ini..” kataku memberikan kalungnya. Saat liontin berbentuk hati itu dibuka, ada fotoku dengan Flora saat pergi ke Jogja. Sungguh lucu dan manis.
“Eh, Nis, aku juga mau lihat bukunya.” pinta Dina.
“Hm..” pikirku dulu. Aku berusaha mengingat buku itu. Dan ternyata, album foto! Aku tak mau memberikannya pada Dina dan Riri.
“Ah! Tidak mau! Ini rahasiaku dengan Flora tahu!” kataku melarang. Lalu, aku tersenyum. Di dalam hatiku, aku tertawa karena mengingat foto-foto di dalam album itu.

Cerpen Karangan: Raihani Putri